Bagi Anda yang mencari sesuap nasi di lahan marketing, bertemu klien mungkin sudah merupakan santapan Anda sehari-hari. Tapi bagaimana bagi Anda yang baru terjun ke dunia yang satu ini setelah mungkin sebelumnya Anda tidak langsung menangani dan lebih berada di belakang layar? Apa jadinya bila Anda mau tidak mau harus menjadi ujung tombak?
First impression is first thing to handle! Tahukah Anda bahwa orang yang baru pertama kali kenal akan langsung mendapatkan kesan akan diri Anda pada beberapa menit di awal pertemuan? Bila pada seleksi beberapa menit ini Anda ‘lolos’, maka hitungan guliran waktu berikutnya akan berjalan dengan lancar dan nyaman.
Membuat calon klien merasa nyaman juga sangat penting, selain juga membuatnya menilai Anda qualified. Bila sudah ‘terpegang’ maka pembicaraan bisnis pun akan lancar mengalir.
z Penampilan
Walaupun terkesan klise, tapi yang jelas, penampilan memang menjadi salah satu modal yang tidak bisa diacuhkan. Pilih busana yang bersih, rapi serta sopan. Cara Anda berbusana juga mencerminkan kepribadian Anda. Bila penampilan saja sudah tidak meyakinkan dan bonafide, bagaimana mungkin orang lain akan percaya dan berbisnis dengan Anda? Dia boleh saja sembarangan berpakaian, tapi yang jelas, jangan sampai Anda juga melakukannya.
z Jabat Tangan
Bersalaman adalah tradisi yang wajib hukumnya saat pertama kali bertemu seseorang yang Anda kenal, maupun baru berkenalan. Jabat tangannya dengan mantap dan hangat, sambil menatap kedua matanya dengan bersahabat. Eye contact sangat penting. Oh ya, untuk jabat tangan, jagalah kadar kekuatan Anda saat menggenggam tangannya, agar jangan terlalu kuat berlebihan saat menjabatnya. Jangan sekalipun berjabat tangan dengan bibir cemberut dan wajah sinis. Kalau Anda melakukannya, dijamin itu merupakan pertemuan pertama dan terakhir.
z Mengucap Salam
Jangan lupa, sambil menjabat tangan, ucapkan salam. Selamat pagi, selamat datang, hai, halo atau it’s nice to meet you, adalah sapaan yang bisa terlontar sambil berjabat tangan. Sebutkan nama Anda dengan artikulasi jelas serta terdengar. Jangan terlalu pelan tapi juga jangan terlalu kencang sehingga seperti diteriakkan. Dengarkan dan ingat nama lawan bicara Anda. Ini penting karena ia akan merasa sangat dihargai jika Anda ingat namanya dan sesekali menyebutnya ketika mengobrol.
z Ekspresi
Ekpresi wajah yang hangat dan bersahabat sangatlah penting. ‘Isi’ mata Anda dengan pandangan ramah dan antusias ketika Anda berbicara ataupun saat mendengarkannya. Senyumlah dengan tulus, jangan dibuat-buat karena malah akan terlihat seperti sebuah seringai dibandingkan senyum.
z Eye Contact
Lakukan kontak mata mulai dari saat berkenalan dan menjabat tangannya, saat membicarakan bisnis sampai selesai dan berpamitan. Tentunya kontak mata dilakukan dengan sejajar, jangan menunduk ataupun mendongak. Tatap matanya dengan pandangan ramah, antusias, jangan malu-malu apalagi takut
Sumber Hanyawanita.com
Monday, May 14, 2007
Sukses Jaring Bisnis
Posted by
Ramadi
at
7:30 AM
0
comments
Friday, May 11, 2007
Hal-hal Penting dalam Training
Training memang penting untuk membantu karyawan meningkatkan kualitas dan produktivitas kerjanya. Tapi, tak kalah penting untuk memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan training itu sendiri. Tips berikut diberikan oleh Managing Director OborCipta Raja Bambang Sutikno, yang juga mantan GM of HRD & GA Division PT Mustika Ratu
1. Sebelum merancang training, terlebih dahulu perlu dilakukan analisis kebutuhan training. Ini terkait dengan strategi bisnis dan umpan balik karyawan. Cara paling sederhana: sebarkan quesioner kepada karyawan untuk mengetahui training apa yang mereka butuhkan. Analisis sekaligus juga untuk menentukan siapa yang memerlukan training, kenapa dia memerlukan dan apa modul yang tepat untuk menutup "gap" antara kenyataan dan harapan.
2. Training diberikan atau dilaksanakan bilamana:
--ada kebijakan/peraturan internal/eksternal, sistem, alat dan teknologi baru
--ada kemauan dan/atau kemampuan kerja karyawan di bawah standar
--ada rencana pengembangan untuk karyawan tertentu guna mengemban posisi tertentu
--ada karyawan baru
3. Contoh-contoh informasi yang membantu untuk mendorong diadakannya training:
--sering terjadi kesalahan dalam proses kerja
--keluhan dari pelanggan/rekan/kontak bisnis
--keluhan dari karyawan
--turn-over; tingginya prosentase keluar-masuk karyawan
--masalah-masalah yang berkaitan dengan absensi/disiplin/motivasi
--laporan-laporan tentang riset pasar, kontrol kualitas, keselamatan&keamanan kerja
4. Merencanakan training:
--menentukan tajuk materi yang menarik
--menjelaskan mengapa training tersebut penting
--menetapkan sasaran dan tujuan program training tersebut
--menetapkan penanggung jawab (penyelenggara, koordinator)
--menunjuk siapa yang akan menghadiri/mengikuti training
--memilih trainer (orang yang memberi training)
--menyiapkan garis besar isi program training yang akan diberikan
--menetapkan teknik dan metode yang akan diterapkan
--menetapkan jangka waktu dan jadwal
--menyiapkan alat bantu yang diperlukan selama kegiatan
--menentukan tempat yang cocok
--menyiapkan sistem dan standar penilaian
--menghitung biaya yang diperlukan
5. Tips tambahan untuk menentukan jadwal training yang tepat:
--tidak banyak mengganggu kelancaran kerja
--pada saat kesibukan kerja menurun
--karena manfaat training bukan hanya bagi karyawan secara pribadi tapi juga bagi perusahaan, maka pembagian waktu yang ideal dalam menentukan jadwal adalah dengan perbandingan fifty-fifty: 50% dari waktu training diambil dari jam kerja karyawan, dan 50% diambil dari waktu di luar jam kerja.
Sumber PortalHR.com
Posted by
Ramadi
at
12:52 AM
0
comments
Merespon Tragedi di Tempat Kerja
Musibah demi musibah terjadi di negeri kita belakangan ini. Gempa bumi, kapal karam, pesawat terbang jatuh atau meledak hingga banjir dan angin puting beliung yang melanda ibukota. Semua itu datang seolah susul-menyusul, mendapat pemberitaan yang besar dari media massa, sehingga menjadi isu nasional yang mengundang simpati dan keprihatinan kita semua.
Di antara berbagai musibah itu ada yang terjadi ketika kita sedang bekerja di kantor. Kita melihat laporannya di televisi, atau membaca beritanya di internet. Tapi, bisa juga, kita menontonnya selama di rumah, dan pagi harinya dengan heboh membahasnya di kantor dengan teman-teman. Pendek kata, meskipun tragedi itu terjadi nun jauh di Sidoarjo atau Yogyakarta, namun imbasnya sampai ke tempat kerja kita juga.
Lebih-lebih, kau ada anggota keluarga teman sekantor yang menjadi korban sebuah musibah, maka suasana duga lebih terasa di tempat kerja. Yang jelas, langsung atau tidak langsung pengaruhnya di tempat kerja, tragedi nasional selalu membangkitkan solidaritas kolektif, yakni keinginan untuk berbuat sesuatu yang bersifat membantu atau meringankan beban korban.
Lain lagi ceritanya kalau musibah itu menimpa kantor kita sendiri.
Berikut aksi-aksi yang direkomendasikan ketika tragedi terjadi, entah itu nun jauh di sana maupun dekat atau bahkan di kantor kita sendiri.
1. Pastikan semua anggota organisasi dalam keadaan aman
Jika musibah atau kecelakaan itu terjadi di tempat kerja, pastikan orang-orang berada dalam kondisi selamat, sebelum kita melakukan tindakan lebih jauh. Lakukan langkah-langkah untuk mengatasi keadaan darurat: nyalakan alarm kebakaran, dan lakukan evakuasi yang paling memungkinkan. Kumpulkan semua orang di satu tempat, sehingga bisa diketahui bahwa seluruh anggota organisasi dalam keadaan selamat.
2. Jangan biarkan produktivitas terhambat
Ketika mengalami, atau mendengar, sebuah musibah, sulit bagi siapa saja untuk tetap bekerja dengan tenang. Itu wajar dan alami. Perhatian mereka akan terpecah. Biarkan saja. Biarkan mereka terpuasakan dengan berbagai informasi yang ingin mereka ketahui berkaitan dengan tragedi itu. Dengan begitu, justru orang lebih bisa diharapkan untuk cepat kembali bekerja dengan produktif.
3. Menimbang keterlibatan personal karyawan
Jika sebuah tragedi mempengaruhi individu secara personal, beri waktu yang cukup untuk pemulihan, beri dukungan, bantu mendapatkan informasi dan hal-hal lain yang diperlukan. Perlu juga diputuskan apakah akan tetap membayarkan uang harian bagi karyawan yang tidak bisa masuk kerja karena musibah. Pikirkan pula tempat penampungan, kalau diperlukan, atau bentuk-bentuk kompensasi lain selama tragedi.
Pengusaha atau pimpinan perusahaan juga bisa melakukan sesuatu yang membantu ketika tragedi mengimbas, langsung maupun tak langsung, ke tempat kerja
1. Sediakan tempat untuk orang-orang bisa berkumpul dan berdiskusi
Orang cenderung merasa lebih nyaman untuk saling berdekatan dan bergandeng tangan ketika tragedi terjadi. Secara informal, Anda dapat menyediakan kesempatan untuk interaksi tersebut dengan, misalnya, menyediakan televisi di ruangan khusus. Sambil berkumpul untuk menyimak perkembangan informasi terbaru, anggota organisasi bisa saling menguatkan dan memberi dukungan.
2. Jadwalkan meeting khusus untuk berbagi informasi
Dalam tragedi yang bersifat nasional, orang ingin tahu informasi terbaru tentang apa yang terjadi. Mereka ingin terus memastikan apakah anggota keluarga atau orang-orang dekat mereka selamat. Jangan biarkan rumor dan gosip yang tak menentu, menambah ketidakpastian dan mengganggu kelancaran kerja.
3. Fasilitasi orang untuk bisa memberi bantuan
Ketika tragedi terjadi, solidaritas bangkit. Orang ingin ikut meringankan beban korban. Ambil inisiatif untuk mengkoordinasikan pengumpulan bantuan, atau merencanakan aksi bakti sosial ke lokasi bencana.
4. Pastikan para manajer dan seluruh jajaran HR siap sedia
Supervisor dan staf HR merupakan bagian penting dari perusahaan selama tragedi terjadi. Karyawan yang tertimpa musibah, baik itu dirinya sendiri atau anggota keluarnya, membutuhkan perhatian khusus. Mereka biasanya datang kepada supervisor atau orang HR. Luangkan waktu untuk mendengarkan keluh-kesah mereka, dan usahakan bantuan sejauh diperlukan.
5. Mencegah lebih baik daripada mengobati
Setiap organsiasi perlu memiliki rancangan penanganan krisis. Misalnya, pencegahan untuk kebakaran, angin puting beliung, gempa bumi dan berbagai bencana alam lainnya. Karyawan perlu diberi pelatihan khusus dan dipersiapkan untuk menghadapi bencana. Bekali mereka dengan keterampilan khusus menangani orang yang terluka, pingsan atau bahkan tewas.
Sumber PortalHR.com
Posted by
Ramadi
at
12:50 AM
0
comments