Friday, May 11, 2007

Hal-hal Penting dalam Training

Training memang penting untuk membantu karyawan meningkatkan kualitas dan produktivitas kerjanya. Tapi, tak kalah penting untuk memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan training itu sendiri. Tips berikut diberikan oleh Managing Director OborCipta Raja Bambang Sutikno, yang juga mantan GM of HRD & GA Division PT Mustika Ratu

1. Sebelum merancang training, terlebih dahulu perlu dilakukan analisis kebutuhan training. Ini terkait dengan strategi bisnis dan umpan balik karyawan. Cara paling sederhana: sebarkan quesioner kepada karyawan untuk mengetahui training apa yang mereka butuhkan. Analisis sekaligus juga untuk menentukan siapa yang memerlukan training, kenapa dia memerlukan dan apa modul yang tepat untuk menutup "gap" antara kenyataan dan harapan.

2. Training diberikan atau dilaksanakan bilamana:

--ada kebijakan/peraturan internal/eksternal, sistem, alat dan teknologi baru

--ada kemauan dan/atau kemampuan kerja karyawan di bawah standar

--ada rencana pengembangan untuk karyawan tertentu guna mengemban posisi tertentu

--ada karyawan baru

3. Contoh-contoh informasi yang membantu untuk mendorong diadakannya training:

--sering terjadi kesalahan dalam proses kerja

--keluhan dari pelanggan/rekan/kontak bisnis

--keluhan dari karyawan

--turn-over; tingginya prosentase keluar-masuk karyawan

--masalah-masalah yang berkaitan dengan absensi/disiplin/motivasi

--laporan-laporan tentang riset pasar, kontrol kualitas, keselamatan&keamanan kerja

4. Merencanakan training:

--menentukan tajuk materi yang menarik

--menjelaskan mengapa training tersebut penting

--menetapkan sasaran dan tujuan program training tersebut

--menetapkan penanggung jawab (penyelenggara, koordinator)

--menunjuk siapa yang akan menghadiri/mengikuti training

--memilih trainer (orang yang memberi training)

--menyiapkan garis besar isi program training yang akan diberikan

--menetapkan teknik dan metode yang akan diterapkan

--menetapkan jangka waktu dan jadwal

--menyiapkan alat bantu yang diperlukan selama kegiatan

--menentukan tempat yang cocok

--menyiapkan sistem dan standar penilaian

--menghitung biaya yang diperlukan

5. Tips tambahan untuk menentukan jadwal training yang tepat:

--tidak banyak mengganggu kelancaran kerja

--pada saat kesibukan kerja menurun

--karena manfaat training bukan hanya bagi karyawan secara pribadi tapi juga bagi perusahaan, maka pembagian waktu yang ideal dalam menentukan jadwal adalah dengan perbandingan fifty-fifty: 50% dari waktu training diambil dari jam kerja karyawan, dan 50% diambil dari waktu di luar jam kerja.

Sumber PortalHR.com

Read More......

Merespon Tragedi di Tempat Kerja

Musibah demi musibah terjadi di negeri kita belakangan ini. Gempa bumi, kapal karam, pesawat terbang jatuh atau meledak hingga banjir dan angin puting beliung yang melanda ibukota. Semua itu datang seolah susul-menyusul, mendapat pemberitaan yang besar dari media massa, sehingga menjadi isu nasional yang mengundang simpati dan keprihatinan kita semua.

Di antara berbagai musibah itu ada yang terjadi ketika kita sedang bekerja di kantor. Kita melihat laporannya di televisi, atau membaca beritanya di internet. Tapi, bisa juga, kita menontonnya selama di rumah, dan pagi harinya dengan heboh membahasnya di kantor dengan teman-teman. Pendek kata, meskipun tragedi itu terjadi nun jauh di Sidoarjo atau Yogyakarta, namun imbasnya sampai ke tempat kerja kita juga.

Lebih-lebih, kau ada anggota keluarga teman sekantor yang menjadi korban sebuah musibah, maka suasana duga lebih terasa di tempat kerja. Yang jelas, langsung atau tidak langsung pengaruhnya di tempat kerja, tragedi nasional selalu membangkitkan solidaritas kolektif, yakni keinginan untuk berbuat sesuatu yang bersifat membantu atau meringankan beban korban.

Lain lagi ceritanya kalau musibah itu menimpa kantor kita sendiri.

Berikut aksi-aksi yang direkomendasikan ketika tragedi terjadi, entah itu nun jauh di sana maupun dekat atau bahkan di kantor kita sendiri.

1. Pastikan semua anggota organisasi dalam keadaan aman

Jika musibah atau kecelakaan itu terjadi di tempat kerja, pastikan orang-orang berada dalam kondisi selamat, sebelum kita melakukan tindakan lebih jauh. Lakukan langkah-langkah untuk mengatasi keadaan darurat: nyalakan alarm kebakaran, dan lakukan evakuasi yang paling memungkinkan. Kumpulkan semua orang di satu tempat, sehingga bisa diketahui bahwa seluruh anggota organisasi dalam keadaan selamat.

2. Jangan biarkan produktivitas terhambat

Ketika mengalami, atau mendengar, sebuah musibah, sulit bagi siapa saja untuk tetap bekerja dengan tenang. Itu wajar dan alami. Perhatian mereka akan terpecah. Biarkan saja. Biarkan mereka terpuasakan dengan berbagai informasi yang ingin mereka ketahui berkaitan dengan tragedi itu. Dengan begitu, justru orang lebih bisa diharapkan untuk cepat kembali bekerja dengan produktif.

3. Menimbang keterlibatan personal karyawan

Jika sebuah tragedi mempengaruhi individu secara personal, beri waktu yang cukup untuk pemulihan, beri dukungan, bantu mendapatkan informasi dan hal-hal lain yang diperlukan. Perlu juga diputuskan apakah akan tetap membayarkan uang harian bagi karyawan yang tidak bisa masuk kerja karena musibah. Pikirkan pula tempat penampungan, kalau diperlukan, atau bentuk-bentuk kompensasi lain selama tragedi.

Pengusaha atau pimpinan perusahaan juga bisa melakukan sesuatu yang membantu ketika tragedi mengimbas, langsung maupun tak langsung, ke tempat kerja

1. Sediakan tempat untuk orang-orang bisa berkumpul dan berdiskusi

Orang cenderung merasa lebih nyaman untuk saling berdekatan dan bergandeng tangan ketika tragedi terjadi. Secara informal, Anda dapat menyediakan kesempatan untuk interaksi tersebut dengan, misalnya, menyediakan televisi di ruangan khusus. Sambil berkumpul untuk menyimak perkembangan informasi terbaru, anggota organisasi bisa saling menguatkan dan memberi dukungan.

2. Jadwalkan meeting khusus untuk berbagi informasi

Dalam tragedi yang bersifat nasional, orang ingin tahu informasi terbaru tentang apa yang terjadi. Mereka ingin terus memastikan apakah anggota keluarga atau orang-orang dekat mereka selamat. Jangan biarkan rumor dan gosip yang tak menentu, menambah ketidakpastian dan mengganggu kelancaran kerja.

3. Fasilitasi orang untuk bisa memberi bantuan

Ketika tragedi terjadi, solidaritas bangkit. Orang ingin ikut meringankan beban korban. Ambil inisiatif untuk mengkoordinasikan pengumpulan bantuan, atau merencanakan aksi bakti sosial ke lokasi bencana.

4. Pastikan para manajer dan seluruh jajaran HR siap sedia

Supervisor dan staf HR merupakan bagian penting dari perusahaan selama tragedi terjadi. Karyawan yang tertimpa musibah, baik itu dirinya sendiri atau anggota keluarnya, membutuhkan perhatian khusus. Mereka biasanya datang kepada supervisor atau orang HR. Luangkan waktu untuk mendengarkan keluh-kesah mereka, dan usahakan bantuan sejauh diperlukan.

5. Mencegah lebih baik daripada mengobati

Setiap organsiasi perlu memiliki rancangan penanganan krisis. Misalnya, pencegahan untuk kebakaran, angin puting beliung, gempa bumi dan berbagai bencana alam lainnya. Karyawan perlu diberi pelatihan khusus dan dipersiapkan untuk menghadapi bencana. Bekali mereka dengan keterampilan khusus menangani orang yang terluka, pingsan atau bahkan tewas.

Sumber PortalHR.com

Read More......

9 Hal tentang Karir Masa Depan

Jika Anda baru lulus --atau masih calon-- dari pendidikan tinggi, maka Anda sebenarnya tidak tahu banyak, seperti apa hari-hari yang akan Anda lewati di kantor --jika nanti Anda mendapatkan pekerjaan. Akan seperti apa pekerjaan Anda? Apa yang akan diharapkan oleh bos dan kolega terhadap diri Anda? Dunia kerja sedang mengalami perubahan dengan sangat drastis. Tipikal tempat kerja pada 2007 tampak sangat berbeda dari tipikal kantor pada 20 tahun yang lalu. Teknologi baru dan perubahan gaya hidup menuntut Anda untuk bekerja dengan cara yang berbeda dari orangtua Anda dulu.

Inilah kecenderungan utama yang perlu Anda cermati

1. Lingkungan kerja telah berubah. Dengan teknologi baru, orang bisa bekerja dengan lebih cerdas, dan menggunakan waktu lebih sedikit untuk hal-hal yang tidak produktif. Secara global, pekerja menghabiskan rata-rata satu jam untuk pergi ke kantor. Tapi, makin luas dan cepatnya koneksi internet memungkinkan mereka bekerja sedikitnya sekali dalam seminggu dari rumah, dan itu menghemat dua jam perjalanan ke kantor per hari.

Sebuah survei baru di Inggris memperlihatkan bahwa hampir separo dari perusahaan terbaik mengizinkan karyawan untuk mengerjakan tugas mereka di rumah. Tentu saja bekerja dari rumah menimbulkan pertanyaan, seperti bagaimana yang bersangkutan bisa fokus dan produktif. Tapi, teknologi juga mengatasi masalah itu dengan solusi-solusi seperti workstreaming, di mana orang bisa dipantau oleh atasan dengan perangkat online.

Seiring makin banyaknya karyawan yang bekerja dari rumah dan melahirkan apa yang disebut kantor virtual, banyak perusahaan mengurangi ruangan untuk karyawan. Bahkan, banyak karyawan kini tak punya meja di kantor. Mereka membawa laptop ke mana-mana, dari rumah ke kantor dan ketika bertemu klien. Di kantor, mereka bisa memakai meja mana saja yang tersedia. Bagi perusahaan, ini mengurangi biaya untuk listrik dan sewa ruang.

Pada sisi lain, ketika banyak perusahaan "mempersempit" kantor mereka, sejumlah perusahaan lain memperbanyak fasilitas untuk menarik talent terbaik mereka. Google misalnya, menyediakan kafetaria, salon, bengkel mobil, kelas bahasa, kelas senam dan voli pantai. Perusahaan lain berusaha menyediakan fasilitas-fasilitas khusus.

2. Selain lingkungan kerja, waktu untuk bekerja pun berubah. Rumus lama jam kerja, dari 9 hingga 5, kini ditantang untuk lebih fleksibel. Pada hari-hari tertentu, Anda harus menyelesaikan laporan sehingga pulang agak malam. Pada hari lain, Anda bisa pulang cepat untuk pergi ke tempat fitnes atau nonton pekan pemutaran film bersama teman-teman. Fleksibilitas menjadi aturan main baru yang dituntut di mana-mana. Jam kerja yang fleksibel tidak hanya memungkinkan Anda bekerja sesuai permintaan, tapi juga ketika suatu hari Anda bekerja lebih lama, Anda bisa mengambil libur sebagai gantinya pada hari lain.

Masih berkaitan dengan fleksibilitas kerja, kini makin banyak perusahaan yang memberikan cuti panjang bagi karyawan. Ini fasilitas yang menarik terutama bagi generasi muda --generasi Anda-- yang ingin punya kesempatan sekali dalam setahun untuk bepergian jauh.

3. Sekarang, bagaimana dengan pekerjaan itu sendiri? Teknologi menjadi faktor terpenting. Makna "bekerja" berubah secara dramatis seiring dengan perubahan pada penggunaan teknologi. Sejumlah pekerjaan menjadi kuno, dan pekerjaan baru, muncul. Kini, kita menggunakan email, mengirim pesan instan, melakukan riset secara online dan memanfaatkan program-program komputer otomatis untuk menyelesaikan pekerjaan.

Anda akan memasuki dunia kerja yang telah diwarnai dengan pertumbuhan komputer game, dan sambil bekerja Anda berkirim SMS dan pesan instan kepada teman-teman. Anda diperhitungkan sebagai generasi yang memiliki perangkat skill yang menuntut bos Anda untuk mengelolanya --generasi serba bisa, dan memiliki sedikit kesabaran untuk meeting panjang.

4. Jadi, Anda diharapkan lebih berdaya dan lebih bagus dalam memecahkan persoalan --dibandingkan generasi pendahulu Anda. Tentu saja, jika teknologi dengan sangat efektif bisa meningkatkan efisiensi kerja, dia juga bisa mengganggu produktivitas. Teknologi membawa dampak (buruk) di kantor. Pekerja kini punya jaringan email yang harus selalu dicek, ada video-video dari YouTube yang bisa dilihat setiap saat, dan game realitas virtual yang bisa dimainkan sambil bekerja. Semua itu menuntut perusahaan untuk melakukan pengawasan, dan bila perlu tindakan pencegahan.

5. Bagaimana dengan gaji? Penting untuk diketahui sejak dini, meskipun harapan terhadap diri Anda terus meningkat, tapi gaji rupanya belum mengikuti. Berbagai riset menunjukkan, kesenjangan (gaji) antara top management dengan karyawan "biasa" masih akan lebar. Jadi, Anda harus tetap kerja keras dan mencapai puncak untuk mendapatkan gaji tinggi.

6. Yang jelas, kini Anda tahu bahwa kaum pengusaha telah dan semakin peka untuk membahagiakan karyawan dengan berbagai bentuk fasilitas. Namun, Anda juga perlu tahu bahwa kini mulai muncul kader baru karyawan yang bekerja pada bidang-bidang pekerjaan yang ekstrem. Extreme job. Harvard Business Review mendefinisikannya sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh para profesional bergaji tinggi yang bekerja dengan gila: cepat, dibawah deadline ketat, bekerja sampai di luar jam kerja reguler, siap sedia untuk klien 24 jam sehari 7 hari seminggu, berada di kantor sedikitnya 10 jam sehari, sering bepergian, pekerjaan mengandung banyak hal tak terduga, dan memiliki tanggung jawab yang luas.

7. Fakta-fakta: The Hidden Brain Drain Task Force, sebuah kelompok pemantau tren dunia kerja di AS mensurvei 6% individu bergaji paling tinggi secara global. Hampir 10% dari para super worker itu menghabiskan lebih dari 100 jam setiap minggu untuk pekerjaan mereka. Empatpuluh dua persen mengambil 10 hari libur setiap tahun, dan beberapa dari mereka mengaku selalu menunda rencana liburan mereka.

8. Apakah Anda terobsesi menjadi pekerja ekstrem seperti itu? Sejumlah pengusaha yang smart, bagaimana pun, akan mencermati efek-efek jangka panjang dari pekerjaan-pekerjaan ekstrem dan mendorong para pekerja-super itu untuk lebih memperhatikan keseimbangan hidup dan kerja.

9. Ngomong-ngomong, apa karir masa depan yang tengah atau akan Anda incar? Mungkin akuntan, manajer, tenaga pemasaran, atau peneliti? Atau, mungkin Anda baru saja merasa bahwa Anda punya energi besar untuk mencoba pekerjaan ekstrem? Permintaan terhadap pekerjaan ekstrem memang akan terus meningkat, tapi jika kita melihat lebih jauh ke depan, pekerjaan-pekerjaan baru yang eksotik akan lebih terbuka.

Sumber PortalHR.com

Read More......